5 Negara dengan Kasus Diabetes Tertinggi di Dunia, Indonesia?

TEMPO.CO, Jakarta -Menurut Oganisasi Kesehata Dunia alias WHO (2016) Diabetes Melitus adalah penyakit kronis serius yang terjadi karena pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur gula darah atau glukosa).

Atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya.

Diabetes merupakan penyakit kronis yang paling tinggi kenaikan angka prevalensinya saat ini dan masuk 10 besar penyebab kematian di dunia

Dari data International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas edisi 10 menyebutkan pada 2021, 537 juta orang dewasa dengan rentan umur 20-79 tahun menderita diabetes atau 1 dari 10 orang menderita diabetes di seluruh dunia. Naik 16 persen atau 74 juta penduduk sejak perkiraan IDF sebelumnya pada 2019. Jumlah ini diprediksi akan meningkat menjadi 643 juta pada tahun 2030 dan 784 juta pada tahun 2045.

Lebih dari 4 dari 5 atau sekitar 81 peren orang dewasa penderita diabetes tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Diabetes menyebabkan 6,7 juta kematian pada tahun 2021. IDF mencatat, sebanyak 541 juta orang dewasa memiliki Gangguan Toleransi Glukosa (IGT), yang menempatkan mereka pada risiko tinggi diabetes tipe 2.

Cina menjadi negara dengan jumlah orang dewasa menderita diabetes terbesar di dunia yaitu 140,87 juta penduduk pada 2021. Kedua, India sebagai negara dengan penderita diabetes tertinggi di dunia yaitu sebanyak 74,19 juta penduduk.

Selanjutnya, ada Pakistan sebanyak 32,96 juta, dan Amerika Serikat 32,22 juta penduduk. Posisi ke lima ada Indonesia dengan jumlah pengidap diabetes sebanyak 19,47 juta penduduk. Dengan jumlah penduduk sebesar 179,72 juta, ini berarti prevalensi diabetes di Indonesia sebesar 10,6 persen.

Di Indonesia, berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 dan tahun 2018 menunjukkan bahwa tren prevalensi penyakit Diabetes Melitus di Indonesia meningkat dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen prevalensi penyakit DM menurut diagnosa dokter meningkat dari 1,2 persen menjadi 2 persen.

WILDA HASANAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.