Bappenas Beberkan Dampak Positif dan Negatif Bonus Demografi di Indonesia

Direktur Kependudukan dan Jaminan Sosial dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Muhammad Choilifihani, mengatakan bahwa saat ini Indonesia memasuki era bonus demografi, yaitu proporsi penduduk usia produktif terbesar sejak merdeka. Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya merupakan sebuah keuntungan untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

“Ini bisa menjadi potensi, tentu melalui investasi sumber daya manusia dan penciptaan lapangan kerja,” ujar pria yang akrab disapa Lifi itu dalam acara webinar Indonesian Demographic Outlook (IDO) 2022 dengan tema “Demografi di Era Pandemi: Proyeksi, Transisi, dan Bonus Demografi” pada Kamis, 16 Desember 2021.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Dalam Negeri, tahun ini terdapat 60 tenaga kerja produktif yang bisa mendukung 100 penduduk. Secara ekonomi kondisi itu dapat memberikan kontribusi 0,22 persen poin terhadap pertumbuhan ekonomi.

Namun, peraih PhD dari Nagoya University itu menambahkan, bahwa selain memberikan dampak positif, bonus demografi juga bisa berdampak negatif. Dia menerangkan bahwa era ini bisa memberikan dampak positif jika penduduk usia produktif dan berkualitas melimpah, sehingga benar-benar bisa memacu pertumbuhan ekonomi negara.

“Tapi bisa negatif apabila jumlah penduduk usia kerja itu melebihi lapangan kerja yang disediakan, karena bisa meningkatkan pengangguran, dan bisa berpotensi meningkatkan angka kemiskinan,” tambahnya.

Lifi juga menjelaskan arah kebijakan untuk mengoptimalkan bonus demografi tersebut. Menurutnya, hal itu sudah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) lima tahun ke depan, dan 2022 merupakan tahun ketiga. Tahun depan, arah kebijakan yang dilakukan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berkualitas.

Caranya, kata Lifi, dengan mengendalikan pertumbuhan penduduk dan memperkuat tata kelola kependudukan, memperkuat pelaksanaan perlindungan sosial, meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan. Lainnya, meningkatkan pemerataan layanan pendidikan berkualitas, meningkatkan kualitas anak, perempuan, dan pemuda.

“Mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan produktivitas dan daya saing,” tutur Lifi sambil menambahkan bahwa itu juga merupakan syarat dalam upaya pemulihan pembangunan akibat pandemi Covid-19.

Dia melanjutkan bahwa tahun depan pemerintah akan melakukan reformasi sistem kesehatan nasional, reformasi sistem perlindungan sosial, percepatan penurunan kematian ibu dan stunting. “Termasuk pembangunan science-techno park juga dilakukan, dan terakhir pendidikan dan pelatihan vokasi untuk industri juga penting untuk dilakukan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.