Mencuri Raden Saleh Segera Diputar di Bioskop, Sutradara Fokus di Heist – Action

Visinema Pictures siap memutarkan film Mencuri Raden Saleh di bioskop di Tanah Air. Pembuatan film ini merupakan perwujudan mimpi lama Angga Dwimas Sasongko, sutradara sekaligus penulis cerita Mencuri Raden Saleh ini.

“Mencuri Raden Saleh adalah passion project yang telah saya nanti-nantikan lebih dari 3 tahun. Di dalam proses pembuatan ceritanya, karya-karya Raden Saleh menyumbang banyak sekali ide dan inspirasi,” kata Angga saat menggelar konferensi pers, Kamis, 16 Desember 2021.

Pendiri Visinema Pictures ini menuturkan, keputusannya membuat film ini bermula dari kegemarannya terhadap lukisan. Selain itu, Angga mengaku sangat terinspirasi karya-karya Raden Saleh, salah satunya lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, dan kerap disebut sebagai simbol perlawanan yang penting bagi Indonesia.

Angga pun membagikan pengalamannya ketika syuting di masa pandemi. Di mana kreatifitas benar-benar diuji. “Syuting ketika pandemi benar-benar menuntut saya dan tim untuk tiga kali lebih kreatif dari keadaan normal,” ujarnya. Tidak hanya soal protokol, tapi juga mengenai batasan-batasan yang makin banyak dan membuat project management menjadi lebih kompleks.

Christian Imanuell, produser Mencuri Raden Saleh menjabarkan kreativitas yang dimaksud Angga. Mulai dari deretan pemain, perpindahan lokasi syuting dari satu tempat ke tempat lain, hingga kompleksitas adegan menjadi tantangan sekaligus petualangan yang menyenangkan.

“Tugas saya sebagai produser, adalah memimpin dan merancang siasat untuk melancarkan pencurian terbesar abad ini tersebut. Rencana yang saya bikin secara konsisten kami eksekusi dengan lancar hingga selesainya proses pengambilan gambar.”

Menurut Angga, film ini berfokus pada heist – action, dengan menampilkan berbagai lokasi elit hingga adegan aksi kompleks yang melibatkan banyak pihak dalam berkolaborasi. Ia mengakui, film ini merupakan lompatan terjauh Visinema.

Di akun Instagram Mencuri Raden Saleh, ditampilkan foto saat adegan balapan dengan mobil. “Adegan balapan di Mencuri Raden Saleh melibatkan banyak pihak. Proses pengambilan adegan ini juga didukung dengan teknologi terkini da tim profesional,” tulis admin akun Mencuri Raden Saleh, dalam unggahan foto pada Ahad, 19 Desember 2021.

Menurut Angga, cerita heist itu masih kurang diterima di publik Indonesia. “Kita ingin tampilkan di sini. Ini sebagai bagian dari momentum untuk keluar dari zona nyaman kita, makanya buatnya seperti berantem. Kita ingin fokus keluar dari yang selama ini orang kenal,” ujarnya.

Film Mencuri Raden Saleh mengisahkan tentang sekelompok anak muda yang sepakat mencuri lukisan maestro pelukis dengan nama mendunia ini. Mereka saling berbagi tugas. Piko sebagai The Forger diperankan oleh Iqbaal Ramadhan sebagai Piko (The Forger, Angga Yunanda sebagai Ucup (The Hacker), Rachel Amanda sebagai Fella (The Negotiator), Aghniny Haque sebagai Sarah (The Brute), Umay Shahab sebagai Gofar (The Handyman), dan Tuktuk berperan sebagai The Driver, yang diperankan oleh Ari Irham.

Selain mereka, ada Tyo Pakusadewo sebagai Permadi, Andrea Dian sebagai Detektif Sita, Ganindra Bimo sebagai Detektif Arman, Atiqah Hasiholan sebagai Dini, dan Dwi Sasono sebagai Budiman. Soal pilihan komplotan pencuri jatuh pada kepada Iqbaal Ramadhan, Ari Irham, Aghniny Haque, Rachel Amanda, Umay Shahab, dan Angga Yunanda karena nama-nama itu yang diharapkan di industri film ini.

“Menarik sekali menyatukan enam karakter ini dalam sebuah frame dengan sebuah cerita, ingin mencuri sesuatu yang besar di dalam Istana Presiden,” ujarnya.

Angga Yunanda yang berperan sebagi Ucup mengatakan bahwa ia belajar banyak. “Seperti workshop pendalaman karakter The Hacker bareng Mas Teguh Aprianto yang memang setiap harinya bekerja sebagai cyber security researcher. Proses syutingnya pun menyenangkan. Aku bisa bilang, Mas Angga dan Kak Cris berhasil memimpin produksi besar ini,” kata Angga.

Film Mencuri Raden Saleh mengaku kepada cerita sejarah tentang Raden Saleh Sjarief Boestaman, yang hidup sekitar 1811-1880. Dia seorang pribumi Jawa pertama yang mendapatkan privilese untuk belajar melukis di Eropa atas beasiswa pemerintah Belanda. Sejumlah penulis dan peneliti menyebutnya sebagai manusia modern Jawa pertama yang memiliki pola pikir ala Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.